Stimulasi Membaca untuk Anak

Tulisan ini adalah journal tantangan untuk kelas Bunda Sayang Leader untuk game level 5 tentang Menstimulasi Anak untuk Suka Membaca.

Kalo di kelas reguler ada tantangan 10 hari untuk membuat “pohon literasi”, sekitaran bulan Juni 2017 lalu pun kami juga membuat pohon literasi, 5 lembar bahkan masing-masing untuk Papa dan mama krucils, Lila, Ale dan Ai. Seru saat pembuatannya karena dikerjakan bareng krucils, sayangnya karena tidak konsisten dan memang krucils belum terlalu bisa diminta benar-benar merawat (ngeles mode on) ya pohon-pohon literasi itu daunnya (yang ga rimbun blass itu) berguguran sampai akhirnya ‘pohon’nya pun hanya tinggal dua aja sekarang xixi.

Dari materi level 5 ini saya tahu tentang tahapan-tahapan yang bisa kita ambil untuk menstimulasi anak untuk suka membaca.

krucils di perpustakaan saat kami mampir sholat di Masjid Jabal Arafah

1. Tahap Mendengarkan

di tahap ini kita bisa mulai dengan berkomunikasi sejak dalam kandungan, membacakan buku dengan suara keras atau mendongeng.

2. Tahap Berbicara

melatih anak berbicara bisa dengan banyak cara, salah satunya dengan siap menjadi ‘murid’ saat anak berlagak jadi ‘guru’ dan pastinya menjadi pendengr yang baik untuk setiap kata-kata yang diucapkannya

3. Tahap Membaca

mendorong anak untuk “membaca apapun” di sekitarnya akan sangat membantunya melewati tahap ini, tentu saja memberi keteladanan akan sangat efektif menghadirkan budaya membaca di rumah.

4. Tahap Menulis

memberi kesempatan untuk mulai corat-coret di media yang kita siapkan, bertahap, pelan-pelan, tidak perlu menggegas untuk bisa menulis dengan baik dan benar

Untuk membuat anak SUKA MEMBACA tahapan2 diatas musti urut dari no 1 sampai no 4, kalau tidak berurutan bisa saja membuat anak hanya BISA MEMBACA, membuat anak-anak BISA itu mudah saja tapi membuat mereka SUKA itu tantangan yang tidak muda.

Ini yang saya rasa saya sedang mengalami untuk anak sulung saya, Lila. Saat ini usianya 8th 4 bulan, mulai mengenal huruf sejak umur kurang dari 4th, belajar membaca sebelum umurnya sampai di tahun ke5, umur 6th lebih sudah lancar membaca. But, sampai saat ini masih sering saja dia mengalami kesusahan dalam memahami apa yang dibacanya, hiks.

Ternyata menurut Bapak Jamaruddin, Koordinator Provinsi USAID PRIORITAS, pemahaman membaca siswa-siswi di Indonesia masih di bawah 80%.

Dari hasil riset yang mereka lakukan melalui Program USAID PRIORITAS melakukan penilaian kemampuan membaca kelas awal (Early Grade Reading Assesment) terhadap 15.941 orang siswa kelas 3 yang disampel di tujuh provinsi dampingan di Indonesia mulai tahun 2012-2015. Tujuh provinsi tersebut yaitu Aceh, Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Hasil dari penilaian tersebut menunjukkan bahwa banyak anak yang disampel oleh program PRIORITAS lancar membaca namun kurang memahami makna teks yang dibaca 

Faktor Penyebab

Pakar Tumbuh Kembang Anak dari Univ. Airlangga, DR dr. Ahmad Suryawan spA(K) mengingatkan orang tua untuk TIDAK mengajarkan calistung sebelum masuk Sekolah Dasar (SD) atau berumur tujuh tahun

“Mengajarkan anak calistung sebelum waktunya dapat merusak tatanan otak anak, dalam artian anak dalam mengerjakan sesuatu tidak runtut atau selaras”

Saya dulu juga pernah membaca tulisan bu Elly Risman, kurang lebih juga karena anak belajar membaca terlalu dini membuat mereka lancar membaca tapi tidak memahami apa yang dibaca tersebut.

Merubah Metode Pembelajaran

Solusi yang ditawarkan Bapak Jamaruddin adalah

– mulai meninggalkan pendekatan menghafal kata dalam mengajarkan membaca pada siswa kelas awal.

– gurunya mau mengubah metode mengajar berdasarkan feed back yang diterima dari siswa, yang melibatkan siswa aktif dalam pembelajaran, salah satu cara untuk membuat siswa aktif dalam pembelajaran membaca adalah dengan mengadakan kegiatan prediksi sebelum membaca dan merangkum bacaan setelah membaca. “Program merangkum bisa gunakan prinsip 5W 1H,”

Muhsan Hadi, Teacher of Trainer Officer USAID PRIORITAS mengungkapkan

– ada tiga strategi yang bisa dilakukan. Yaitu membaca bersama, membaca terbimbing dan membaca mandiri. Tak hanya itu, siswa juga diberi pengenalan kosakata, tanda baca dan intonasi.

Jadi jelas sekarang, kenapa Lila seringkali tidak memahami apa yang dibacanya, terlalu dini usianya untuk mulai belajar membaca dan tidak berurutan tahapan kami dalam menstimulasinya suka membaca.

Untuk Lila sekarang, saya lebih sering menemaninya membaca, lalu memintanya untuk menceritakan kembali apa yang baru saja dibacanya, kalau belum paham, saya akan menuntunnya untuk membaca lagi pelan-pelan sampai dia mengerti. Selain menyediakan buku-buku bacaan yang menarik minatnya membaca.

karenanya saya tidak terlalu risau lagi dan tidak akan terburu-buru mengajari anak ketiga saya, Ai yang sekarang berusia 4 tahun 6 bulan untuk membaca, saya akan menjalankan tahapan-tahapan stimulasi membaca pada anak secara berurutan.

Saat ini Ai memang masih suka sekali dibacakan buku-buku pilihannya,

============

Referensi :

Institut Ibu Profesional, Kelas Bunda Sayang, Materi ke #5* MENSTIMULASI ANAK SUKA MEMBACA
https://www.edunews.id/edunews/pendidikan/banyak-siswa-lancar-membaca-tapi-kurang-memahami-bacaannya-begini-solusinya
https://m.suara.com/health/2015/11/22/132000/pakar-belajar-calistung-terlalu-dini-merusak-tatanan-otak-anak
https://suryamalang.tribunnews.com/amp/2016/03/24/strategi-ini-membuat-anak-lancar-membaca-dan-mengerti-isi-bacaan

Advertisements

One thought on “Stimulasi Membaca untuk Anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s